----Cerita
ini terinspirasi dari kehidupan pribadiku yang biasa saja----
Aku
terlahir ke dunia dengan keadaan yang kurang beruntung, Aku memiliki kondisi
fisik yang berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya, keluargaku juga bukanlah
keluarga yang berada tapi kalau untuk kebutuhan makan bisalah terpenuhi. Ayahku
adalah petani biasa, mamaku hanya ibu rumah tangga yang pada umumnya. Aku anak
pertama dari 4 bersaudara, adik-adikku masih remaja saat ini.
Ketika
masih kecil dahulu, aku tergolong anak periang tapi pendiam. Aku banyak teman
kala itu, namun ada dari mereka yang sering mengolok-olokku karena kondisi
fisikku yang berbeda dengan mereka yang umumnya. Dan aku memiliki penyakit yang
tidak lazim dan sampai sekarang masih aku derita.
Mamaku
adalah sosok yang selalu ada di sampingku, yang selalu memberiku semangat tiada
tara. Selalu menasehatiku agar mengabaikan
olokan dan cemoohan orang di sekitarku. Setiap malam sebelum tidur mama selalu
menanyaiku tentang kegiatanku di siang hari, seperti tak ingin melepaskan
kontrolnya terhadap diriku. Disetiap nasehatnya dan pertanyaan kontrolnya, mama
selalu menyelipkan pertanyaan tentang cita-citaku dimasa mendatang nanti. Aku
ingat persis dahulu, ia selalu menyebutkan kata PILOT, PROFESSOR dan POLISI.
Mungkin itu doa mamaku untukku dalam lisannya. Sebagai sosok anak kecil yang
masih ingusan, aku diajari untuk mengaminkan hal-hal yang baik untuk masa
depan. Aku tak kan lupa dengan sosok mama yang begitu menyayangiku. Mamaku
adalah Sabatku yang terbaik. Kasihnya tak terhinnga.
Di
usiaku yang belia, aku menghabiskan waktuku untuk bermain dan bermain bersama
teman-teman. Mama dan keluargaku sering membelikanku mainan, paling banyak
tembak-tembakan, pesawat mainan, dan
layangan. Mengingat itu semua, aku simpulkan mamaku mengimpikan aku menjadi
salah satu dari kata-kata yang sering ia ucapkan dalam katanya sebelum tidurku.
Aku enjoy dengan mainan-mainanku. Aku sering bermain dengan sepupuku, Dedi Firmansyah
namanya. Bisa dibilang aku masih beruntung darinya. Kita sama-sama kurang mampu
namun om tanteku, orang tua Dedi sangat kurang mampu karena mereka memiliki 7
anak kala itu dan mereka masih tinggal dirumah nenekku. Saking tidak mampunya,
saudara-saudaranya mengambil anaknya tiap satu oranng satu anak bahkan ada yang
sampai dua orang, ya ! mamaku sendiri orangnya. Mamaku merawat 2 orang sepupuku
yang kala itu aku belum lahir hingga aku kelas berusia 11 tahun. Sepupuku ini
semuanya perempuan. Merekalah yang membantu mamaku merawatku sejak aku kecil.
Kak Enni dan kak Sarina terima kasih banyak atas apa yang kakak berikan ke aku.
Kakak sarina selalu mengawasi aku dan Dedi saat bermain, ia menjaga kami di
dalam rumah dan dilarang keluar rumah dengan alas an di luar ada polisi,
ataukah orang mati. Pokoknya ada-ada saja momok yang dikatan agar kita gak
berkeliaran di luar rumah. Sementara Kak Enni, adalah pembimbingku saat
belajar. Ia mengajariku mengitung dan menghafal huruf-huruf. Aku masih ingat
saat itu aku belum bisa melafalkan huruf R. Sering kak Enni mengomeliku saat
aku lupa tentang apa yang ia ajarkan padaku, tak jarang aku menangis ketika ia
mengomel. Aku sering lari ke tempat tidur ketika dia ngomel dan aku menangis
memeluk bantal.
Ayahku,
aku memanggilnya iyye. Aku tak tahu persis mengapa aku panggil iyye. Yang
jelasnya semua keturunan dari Kakekku, ayah dari ayahku semua memanggil ayahnya
dengan kata Iyye, Iyyeku sering merantau untuk membiayai hidup kami. Iyyeku
sendiri menanggung 6 orang anggota keluarga saat itu, Aku, mamaku, nenekku,
adik kecilku (Muh. Rahmat Fatahilla ), dan juga kedua orang sepupuku ( kak
Sarina dan kak Enni ). Aku jarang melihat wajah Iyyeku saat masih kecil. Mama
pernah bilang kalo Iyyeku pernah ke Malaysia menjadi TKI. Tapi aku tak begitu
tahu ceritanya bagaimana. Hingga akhirnya Iyyeku menetap di tana Sinjai kembali
bersama kami lagi. Lama di Sinjai, kondisi ekonomi keluarga makin tipis, maklum
cuma mengandalkan panen padi dari lahan yang tak begitu luas. Iyyeku juga tak memiliki
pekerjaan sampingan kala itu. Melihat kondisi itu, Iyyeku mencari-cari
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, yang pastinya tidak sampai kerja
kantoran karena Cuma bermodal ijazah sekolah dasar saja. Dan akhirnya iyye
diajak kerabat yang masih keluarga juga untuk transmigran ke salah satu
kabupaten di Sulawesi Tengah tepatnya di Parigi Moutong ( Kala itu masih
kabupaten Donggala ). Iyyeku pun menerima dan berangkat ke sana untuk mengubah
nasib keluarga.
Tidak
berapa lama ia di sana, iyye sering kali dikabarkan terjangkit penyakit
malaria. Maklum di sana, Iyyeku bekerja sebagai petani cokelat dan masih dalam
tahap pembukaan lahan. Karena itu Iyyeku
pulang ke tanah bugis kembali setelah semua pekerjaanya di sana ia selesaikan.
Memang Iyyeku tak membawa hasil yang banyak saat dia pulang, karena ini baru
dimulai. Iyyeku pulang dengan kondisi hampir tersisa hanya tulang. Ia begitu
kurus dan hitam pekat, tidak sama saat sebelum ia pergi. Kurang dari setahu
setelah iyye stay di sinjai, kami diajaknya tinggal di sana. Mamaku setuju,
nenekku pun demikian. Dan akhirnya kami sekeluarga berpindah ke Parigi, hanya
saja sepupu-sepupuku tidak ikut. Mereka menjaga rumahku di Sinjai.
Keberangkatan
kami ke Parigi diiringi isak tangis kedua sepupuku dan juga semua keluarga yang
kami tinggalkan. Kulihat mamaku menitikkan air mata, aku juga ikut menangis.
Aku tidak tahu kenapa aku sering ikut-ikutan sedih kalau melihat mamaku
menitikkan air mata. Aku kasihan melihat sepupuku hanya berdua di rumah, karena
kala itu adalah masa-masa labil mereka. Meraka masih umur tahunan, belasan pun
mungkin belum cukup. Tapi mereka bisa bernafas lega karena nenek hanya
mengantar kami, jadi nenek tidak bakalan lama di Parigi, kurang lebih hanya
sebulan. Selamat tinggal kakak.
Banyak
sekali kendala selama di perjalanan, adikku sering menangis dan muntah, kami
kehabisan bekal di perjalanan yang mana di sana tak ada satupun warung atau
kios yang menyediakan makanan karena posisi kita sedang berada di hutan
belantara. Hingga kami harus berpuasa selama tiga hari. Sebenarnya aku tidak
puasa sih, aku dan adikku tetap makan tapi hanya nenek dan orang tuaku yang
tidak makan, agar kami berdua tetap makan. Hampir seminggu kami di perjalanan
akhirnya kami sampai di tujuan, di dusun Labuan, Desa Posona, Kec. Ampibabo (
Sekarang Desa Silampayang, Kecamatan Kasimbar ). Suasana yang sangat baru
kudapatkan di sana, tepi pantai nan elok dengan butiran pasir yang terhampar
tak terjamah tangan jahil menampakkah kenaturalan alam ini. Di sana,
keluargakuku masih menumpang dengan kerabat yang mengajak iyyeku ( om ompo/
Ismail Tato) untuk bekerja di sana. Aku mulai betah tinggal berhari-hari di
sana. Namun setelah beberapa hari di sana, kami harus pindah ke tempat dimana
iyyeku menggarap perkebunan. Saat itu belum ada kendaraan yang memadai untuk
menjangkau tempat itu, jadi kami hanya naik gerobak sapi milik om Ompo.
Ukurannya kira-kira kurang lebih 4 m2 . sedangkan jumlah angkutan
yang dimuat melebihi kapasitas yang ada. Mau tidak mau harus berdesakan dengan
barang barang dibawah terik matahari selama 1 jam. Jarak kira-kira untuk sampai
ke dusun itu sekitar 5 km dengan jalan yang masih belum beraspal, seperti
jalan-jalan di kampung/pedalaman pada umumnya. Aku merasa risih pada saat itu
karena terasa sempit sekali. Lama juga satu jam itu, hingga aku jenuh dengan
keadaan itu. Aku hanya mendengarkan pembicaraan orang-orang di gerobak untuk
menghilangkan kejenuhanku sambil menebak-nebak tempat pemberhentian gerobak
nantinya. Alamak, jalan berkelok, berkali-kali naik turun bukit, berkali pun
melintasi jembatan yang hampir semuanya jembatan rusak. Hanya ada satu jembatan
yang tidak rusak namun terlalu sempit, panjang dan sangat menakutkan bagiku
tepatnya di perbatasan antara dusun banpres dan despot hingga gerobak harus melintasi
sungai untuk menyebrang ke dusun Despot, yah dusun yang akan menjadi tempat
hunian baruku. Setelah melintasi sungai itu, aku melirik ke samping kiriku dan
melihat sebuah bangunan tak berpenghuni namun bersih dan penuh hiasan, dan
ternyata itu bangunan rumah ibadah agama Nasrani, Gereja Manunggal namanya.
Upzt,
dapat hutan lagi. Kira-kira 700 meter dari situ baru terlihat perkampungan nan
asri. Mataku terbelalak melihat perkampungan yang penuhi janur kuning di beberapa halaman rumah, yah kan
barusan agama Hindu merayakan salah satu hari rayanya. Pengalaman pertama
bagiku melihat keberagaman yang seperti ini. tak seperti di kampungku yang lama
hanya ada suku bugis dan agama Islam saja. Namun aku akan sangat merindukan
kampung halamanku. Dari semua itu, aku mulai tak jenuh lagi. Aku sangat takjub
dengan dusun baruku ini. masih tetap menebak di mana dan bagaimana aku akan
tinggal nantinya. Berjarak kuran lebih 2 kilometer dari perkampungan itu
akhirnya kami harus melintasi 1 jembatan lagi. Dan jembatan yang kali ini
sangat parah, kayunya sudah lapuk dan sangat tak layak pakai lagi. Aku merasa
ketakutan dan memeluk nenekku. Dengan perlahan sapi memijakkan kakinya di kayu
yang terlihat lapuk dengan perlahan seraya aku memejamkan mata karena takut
dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi untunglah, kayu yang dipijak itu
masih hampir lapuk sehingga tidak terjadi apa-apa lagi. Aduh, pendaikian dan
lagi-lagi hutan lagi. Jalannya becek, maklum masih basah dari hujan semalam.
Tak jauh dari situ, terlihat bangunan mungil berlantai 1 dengan sentuhan
western namun terbuat dari kayu, jendelanya menyerupai jeruji benteng
peninggalan belanda, ada tegel imitasi yang terbuat dari plastik menempel di
dindingnya, ada dua tiang sebesar tiang kelapa di bagian depan, ada pula teras
( Lego-lego dalam bahasa bugis Sinjai ) serta sebuah tangga yang berada di tepi
dekat salah satu tiang silender besar itu. Omku bilang kalau rumah itu adalah
tempat keluarga kami akan tinggal. Rumah itu adalah milik ipar dari om Ompo,
Tante Sani namanya. Ia tak tinggal di rumahnya ini karena ia dan keluarganya
menetap di Ibu Kota Sulawesi Tengah. Jadi kami tinggal di rumah itu dan
menggarap kebun milik Tante Sani dengan ketentuan bagi hasil. Aku cukup senang
dengan keadaan yang ada, namun aku juga merasa kurang asyik, karena tempat itu
adalah ujung perkampungan dan merupakan rumah terakhir menurutku. Tak ada satu
rumah pun di dekat rumah mungil tempat aku tinggal. Suasana yang dulu ada saat
aku di Sinjai dulu berbalik 360 derajat, dari semua ada bagi ukuran keluargaku
menjadi sama sekali tak ada. Tanpa Dedi, Kakak Sari, Kak Enni, sepupu-sepuku,
Teman-teman,Tante-tanteku dan Nenekku yang ada di kampung. Ugh…. Sepi
rasanya…..!!!! Dan aku tak bisa apa-apa disini.
Kehidupanku
yang dulu sudah berubah dengan yang dulu, dulu aku anak rumahan dengan
pengawasan yang ekstra, sekarang aku sudah jadi anak kebun yang setiap harinya
ikut Iyye dan mama ke kebun. Namun biasa juga aku hanya di rumah, menjaga
adikku menggantikan posisi kak Enni dan kak Sarina yang dulu merawat kami
berdua selama kami masih di Sinjai. Kadang aku jengkel dengan adikku yang
rewel. Saat itu aku masih berusia 4 tahun dan adikku masih 2 tahunan. Aku
sering mencubit dan memukul adikku ketika aku sudah bosan menjaganya. Pernah
aku didapati mamaku menyakiti adikku, dan mama menghukumku dengan cubitannya
yang waw extra sakit bagiku. Sakit sekali rasanya, kalau saya diperlakukan
seperti itu seperti ingin kembali ke Sinjai lagi. Di Sinjai aku tidak pernah
diperlakukan seperti ini. Namanya juga anak-anak belum tau apa-apa.
Berbulan-bulan
di Despot, aku telah larut dalam kesepian sehingga semua itu tak lagi menjadi
sebuah hal yang luar biasa menekan dalam hidupku, aku sudah enjoy dengan semua
yang ada saat ini. aku sudah sering diajak mama untuk pergi menonton pagelaran
di dekat pura di dusunku. Disana banyak sekali pertunjukan-pertunjukan menarik,
beraneka tarian daerah, lagu daerah dan masih banyak lagi pertujukan lainnya.
Yang ditampilkan pada saat pertunjukan itu adalah pertunjukan daerah Bali dan
Jawa, karena penganut agama hindu di dusunku didominasi oleh suku-suku dari
daerah tersebut. Setelah dari situ aku sering mempraktekkan gerakan-gerakan
tarian yang pernah dilakonkan. Aku mulai mampu berfikir sederhana bahwa
Indonesia ini luas, bukan hanya dihuni oleh suku bugis dan agama islam saja.
Dan aku mulai mengenal berbagai macam kebudayaan yang membuatku cinta akan
negeriku yang permai ini.
Mama
juga sering mengajak aku turun ke Labuan mengunjungi keluarga yang tinggal di
dusun itu. Ternyata banyak sekali sepupu-sepupu mamaku yang bermukim di sana,
ada banyak sepupu dua kaliku yang membuatku sepeti di Sinjai lagi. Namun aku
hanya bisa menghabiskan waktu bersama mereka sekitar 2- 3 hari, karena masih
banyak pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan oleh mamaku. Saat akan
meninggalkan mereka, sangat sedih rasanya. Karena aku harus bergelut lagi
dengan kesunyian pelosok dusun.
Setiap
malam aku selalu melantunkan lagu daerahku walau itu hanya merupakan
potongan-potongan dari bait-bait lagu yang diajarkan oleh mamaku. Ingat kampung
halaman lagi dan lagi rasanya. Laguku di iringi alunan malam jangkrik yang
bersimfoni dan teriakan mesin traktor penjinjing kayu bantalan. Hanya itu setiap
malam yang menyapa pendengaranku.
BERSAMBUNG....
0 komentar:
Posting Komentar