Minggu, 17 Maret 2013

CERITA ANAK KAMPUNG. BIDIKAN PENGHARAPAN SURYA DI UFUK BARAT ( PART I )



----Cerita ini terinspirasi dari kehidupan pribadiku yang biasa saja----
Aku terlahir ke dunia dengan keadaan yang kurang beruntung, Aku memiliki kondisi fisik yang berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya, keluargaku juga bukanlah keluarga yang berada tapi kalau untuk kebutuhan makan bisalah terpenuhi. Ayahku adalah petani biasa, mamaku hanya ibu rumah tangga yang pada umumnya. Aku anak pertama dari 4 bersaudara, adik-adikku masih remaja saat ini.
Ketika masih kecil dahulu, aku tergolong anak periang tapi pendiam. Aku banyak teman kala itu, namun ada dari mereka yang sering mengolok-olokku karena kondisi fisikku yang berbeda dengan mereka yang umumnya. Dan aku memiliki penyakit yang tidak lazim dan sampai sekarang masih aku derita.
Mamaku adalah sosok yang selalu ada di sampingku, yang selalu memberiku semangat tiada tara. Selalu menasehatiku agar mengabaikan  olokan dan cemoohan orang di sekitarku. Setiap malam sebelum tidur mama selalu menanyaiku tentang kegiatanku di siang hari, seperti tak ingin melepaskan kontrolnya terhadap diriku. Disetiap nasehatnya dan pertanyaan kontrolnya, mama selalu menyelipkan pertanyaan tentang cita-citaku dimasa mendatang nanti. Aku ingat persis dahulu, ia selalu menyebutkan kata PILOT, PROFESSOR dan POLISI. Mungkin itu doa mamaku untukku dalam lisannya. Sebagai sosok anak kecil yang masih ingusan, aku diajari untuk mengaminkan hal-hal yang baik untuk masa depan. Aku tak kan lupa dengan sosok mama yang begitu menyayangiku. Mamaku adalah Sabatku yang terbaik. Kasihnya tak terhinnga.
Di usiaku yang belia, aku menghabiskan waktuku untuk bermain dan bermain bersama teman-teman. Mama dan keluargaku sering membelikanku mainan, paling banyak tembak-tembakan,  pesawat mainan, dan layangan. Mengingat itu semua, aku simpulkan mamaku mengimpikan aku menjadi salah satu dari kata-kata yang sering ia ucapkan dalam katanya sebelum tidurku. Aku enjoy dengan mainan-mainanku. Aku sering bermain dengan sepupuku, Dedi Firmansyah namanya. Bisa dibilang aku masih beruntung darinya. Kita sama-sama kurang mampu namun om tanteku, orang tua Dedi sangat kurang mampu karena mereka memiliki 7 anak kala itu dan mereka masih tinggal dirumah nenekku. Saking tidak mampunya, saudara-saudaranya mengambil anaknya tiap satu oranng satu anak bahkan ada yang sampai dua orang, ya ! mamaku sendiri orangnya. Mamaku merawat 2 orang sepupuku yang kala itu aku belum lahir hingga aku kelas berusia 11 tahun. Sepupuku ini semuanya perempuan. Merekalah yang membantu mamaku merawatku sejak aku kecil. Kak Enni dan kak Sarina terima kasih banyak atas apa yang kakak berikan ke aku. Kakak sarina selalu mengawasi aku dan Dedi saat bermain, ia menjaga kami di dalam rumah dan dilarang keluar rumah dengan alas an di luar ada polisi, ataukah orang mati. Pokoknya ada-ada saja momok yang dikatan agar kita gak berkeliaran di luar rumah. Sementara Kak Enni, adalah pembimbingku saat belajar. Ia mengajariku mengitung dan menghafal huruf-huruf. Aku masih ingat saat itu aku belum bisa melafalkan huruf R. Sering kak Enni mengomeliku saat aku lupa tentang apa yang ia ajarkan padaku, tak jarang aku menangis ketika ia mengomel. Aku sering lari ke tempat tidur ketika dia ngomel dan aku menangis memeluk bantal.
Ayahku, aku memanggilnya iyye. Aku tak tahu persis mengapa aku panggil iyye. Yang jelasnya semua keturunan dari Kakekku, ayah dari ayahku semua memanggil ayahnya dengan kata Iyye, Iyyeku sering merantau untuk membiayai hidup kami. Iyyeku sendiri menanggung 6 orang anggota keluarga saat itu, Aku, mamaku, nenekku, adik kecilku (Muh. Rahmat Fatahilla ), dan juga kedua orang sepupuku ( kak Sarina dan kak Enni ). Aku jarang melihat wajah Iyyeku saat masih kecil. Mama pernah bilang kalo Iyyeku pernah ke Malaysia menjadi TKI. Tapi aku tak begitu tahu ceritanya bagaimana. Hingga akhirnya Iyyeku menetap di tana Sinjai kembali bersama kami lagi. Lama di Sinjai, kondisi ekonomi keluarga makin tipis, maklum cuma mengandalkan panen padi dari lahan yang tak begitu luas. Iyyeku juga tak memiliki pekerjaan sampingan kala itu. Melihat kondisi itu, Iyyeku mencari-cari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, yang pastinya tidak sampai kerja kantoran karena Cuma bermodal ijazah sekolah dasar saja. Dan akhirnya iyye diajak kerabat yang masih keluarga juga untuk transmigran ke salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah tepatnya di Parigi Moutong ( Kala itu masih kabupaten Donggala ). Iyyeku pun menerima dan berangkat ke sana untuk mengubah nasib keluarga.
Tidak berapa lama ia di sana, iyye sering kali dikabarkan terjangkit penyakit malaria. Maklum di sana, Iyyeku bekerja sebagai petani cokelat dan masih dalam tahap pembukaan lahan.  Karena itu Iyyeku pulang ke tanah bugis kembali setelah semua pekerjaanya di sana ia selesaikan. Memang Iyyeku tak membawa hasil yang banyak saat dia pulang, karena ini baru dimulai. Iyyeku pulang dengan kondisi hampir tersisa hanya tulang. Ia begitu kurus dan hitam pekat, tidak sama saat sebelum ia pergi. Kurang dari setahu setelah iyye stay di sinjai, kami diajaknya tinggal di sana. Mamaku setuju, nenekku pun demikian. Dan akhirnya kami sekeluarga berpindah ke Parigi, hanya saja sepupu-sepupuku tidak ikut. Mereka menjaga rumahku di Sinjai.
Keberangkatan kami ke Parigi diiringi isak tangis kedua sepupuku dan juga semua keluarga yang kami tinggalkan. Kulihat mamaku menitikkan air mata, aku juga ikut menangis. Aku tidak tahu kenapa aku sering ikut-ikutan sedih kalau melihat mamaku menitikkan air mata. Aku kasihan melihat sepupuku hanya berdua di rumah, karena kala itu adalah masa-masa labil mereka. Meraka masih umur tahunan, belasan pun mungkin belum cukup. Tapi mereka bisa bernafas lega karena nenek hanya mengantar kami, jadi nenek tidak bakalan lama di Parigi, kurang lebih hanya sebulan. Selamat tinggal kakak.
Banyak sekali kendala selama di perjalanan, adikku sering menangis dan muntah, kami kehabisan bekal di perjalanan yang mana di sana tak ada satupun warung atau kios yang menyediakan makanan karena posisi kita sedang berada di hutan belantara. Hingga kami harus berpuasa selama tiga hari. Sebenarnya aku tidak puasa sih, aku dan adikku tetap makan tapi hanya nenek dan orang tuaku yang tidak makan, agar kami berdua tetap makan. Hampir seminggu kami di perjalanan akhirnya kami sampai di tujuan, di dusun Labuan, Desa Posona, Kec. Ampibabo ( Sekarang Desa Silampayang, Kecamatan Kasimbar ). Suasana yang sangat baru kudapatkan di sana, tepi pantai nan elok dengan butiran pasir yang terhampar tak terjamah tangan jahil menampakkah kenaturalan alam ini. Di sana, keluargakuku masih menumpang dengan kerabat yang mengajak iyyeku ( om ompo/ Ismail Tato) untuk bekerja di sana. Aku mulai betah tinggal berhari-hari di sana. Namun setelah beberapa hari di sana, kami harus pindah ke tempat dimana iyyeku menggarap perkebunan. Saat itu belum ada kendaraan yang memadai untuk menjangkau tempat itu, jadi kami hanya naik gerobak sapi milik om Ompo. Ukurannya kira-kira kurang lebih 4 m2 . sedangkan jumlah angkutan yang dimuat melebihi kapasitas yang ada. Mau tidak mau harus berdesakan dengan barang barang dibawah terik matahari selama 1 jam. Jarak kira-kira untuk sampai ke dusun itu sekitar 5 km dengan jalan yang masih belum beraspal, seperti jalan-jalan di kampung/pedalaman pada umumnya. Aku merasa risih pada saat itu karena terasa sempit sekali. Lama juga satu jam itu, hingga aku jenuh dengan keadaan itu. Aku hanya mendengarkan pembicaraan orang-orang di gerobak untuk menghilangkan kejenuhanku sambil menebak-nebak tempat pemberhentian gerobak nantinya. Alamak, jalan berkelok, berkali-kali naik turun bukit, berkali pun melintasi jembatan yang hampir semuanya jembatan rusak. Hanya ada satu jembatan yang tidak rusak namun terlalu sempit, panjang dan sangat menakutkan bagiku tepatnya di perbatasan antara dusun banpres dan despot hingga gerobak harus melintasi sungai untuk menyebrang ke dusun Despot, yah dusun yang akan menjadi tempat hunian baruku. Setelah melintasi sungai itu, aku melirik ke samping kiriku dan melihat sebuah bangunan tak berpenghuni namun bersih dan penuh hiasan, dan ternyata itu bangunan rumah ibadah agama Nasrani, Gereja Manunggal namanya.
Upzt, dapat hutan lagi. Kira-kira 700 meter dari situ baru terlihat perkampungan nan asri. Mataku terbelalak melihat perkampungan yang penuhi janur  kuning di beberapa halaman rumah, yah kan barusan agama Hindu merayakan salah satu hari rayanya. Pengalaman pertama bagiku melihat keberagaman yang seperti ini. tak seperti di kampungku yang lama hanya ada suku bugis dan agama Islam saja. Namun aku akan sangat merindukan kampung halamanku. Dari semua itu, aku mulai tak jenuh lagi. Aku sangat takjub dengan dusun baruku ini. masih tetap menebak di mana dan bagaimana aku akan tinggal nantinya. Berjarak kuran lebih 2 kilometer dari perkampungan itu akhirnya kami harus melintasi 1 jembatan lagi. Dan jembatan yang kali ini sangat parah, kayunya sudah lapuk dan sangat tak layak pakai lagi. Aku merasa ketakutan dan memeluk nenekku. Dengan perlahan sapi memijakkan kakinya di kayu yang terlihat lapuk dengan perlahan seraya aku memejamkan mata karena takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi untunglah, kayu yang dipijak itu masih hampir lapuk sehingga tidak terjadi apa-apa lagi. Aduh, pendaikian dan lagi-lagi hutan lagi. Jalannya becek, maklum masih basah dari hujan semalam. Tak jauh dari situ, terlihat bangunan mungil berlantai 1 dengan sentuhan western namun terbuat dari kayu, jendelanya menyerupai jeruji benteng peninggalan belanda, ada tegel imitasi yang terbuat dari plastik menempel di dindingnya, ada dua tiang sebesar tiang kelapa di bagian depan, ada pula teras ( Lego-lego dalam bahasa bugis Sinjai ) serta sebuah tangga yang berada di tepi dekat salah satu tiang silender besar itu. Omku bilang kalau rumah itu adalah tempat keluarga kami akan tinggal. Rumah itu adalah milik ipar dari om Ompo, Tante Sani namanya. Ia tak tinggal di rumahnya ini karena ia dan keluarganya menetap di Ibu Kota Sulawesi Tengah. Jadi kami tinggal di rumah itu dan menggarap kebun milik Tante Sani dengan ketentuan bagi hasil. Aku cukup senang dengan keadaan yang ada, namun aku juga merasa kurang asyik, karena tempat itu adalah ujung perkampungan dan merupakan rumah terakhir menurutku. Tak ada satu rumah pun di dekat rumah mungil tempat aku tinggal. Suasana yang dulu ada saat aku di Sinjai dulu berbalik 360 derajat, dari semua ada bagi ukuran keluargaku menjadi sama sekali tak ada. Tanpa Dedi, Kakak Sari, Kak Enni, sepupu-sepuku, Teman-teman,Tante-tanteku dan Nenekku yang ada di kampung. Ugh…. Sepi rasanya…..!!!! Dan aku tak bisa apa-apa disini.
Kehidupanku yang dulu sudah berubah dengan yang dulu, dulu aku anak rumahan dengan pengawasan yang ekstra, sekarang aku sudah jadi anak kebun yang setiap harinya ikut Iyye dan mama ke kebun. Namun biasa juga aku hanya di rumah, menjaga adikku menggantikan posisi kak Enni dan kak Sarina yang dulu merawat kami berdua selama kami masih di Sinjai. Kadang aku jengkel dengan adikku yang rewel. Saat itu aku masih berusia 4 tahun dan adikku masih 2 tahunan. Aku sering mencubit dan memukul adikku ketika aku sudah bosan menjaganya. Pernah aku didapati mamaku menyakiti adikku, dan mama menghukumku dengan cubitannya yang waw extra sakit bagiku. Sakit sekali rasanya, kalau saya diperlakukan seperti itu seperti ingin kembali ke Sinjai lagi. Di Sinjai aku tidak pernah diperlakukan seperti ini. Namanya juga anak-anak belum tau apa-apa.
Berbulan-bulan di Despot, aku telah larut dalam kesepian sehingga semua itu tak lagi menjadi sebuah hal yang luar biasa menekan dalam hidupku, aku sudah enjoy dengan semua yang ada saat ini. aku sudah sering diajak mama untuk pergi menonton pagelaran di dekat pura di dusunku. Disana banyak sekali pertunjukan-pertunjukan menarik, beraneka tarian daerah, lagu daerah dan masih banyak lagi pertujukan lainnya. Yang ditampilkan pada saat pertunjukan itu adalah pertunjukan daerah Bali dan Jawa, karena penganut agama hindu di dusunku didominasi oleh suku-suku dari daerah tersebut. Setelah dari situ aku sering mempraktekkan gerakan-gerakan tarian yang pernah dilakonkan. Aku mulai mampu berfikir sederhana bahwa Indonesia ini luas, bukan hanya dihuni oleh suku bugis dan agama islam saja. Dan aku mulai mengenal berbagai macam kebudayaan yang membuatku cinta akan negeriku yang permai ini.
Mama juga sering mengajak aku turun ke Labuan mengunjungi keluarga yang tinggal di dusun itu. Ternyata banyak sekali sepupu-sepupu mamaku yang bermukim di sana, ada banyak sepupu dua kaliku yang membuatku sepeti di Sinjai lagi. Namun aku hanya bisa menghabiskan waktu bersama mereka sekitar 2- 3 hari, karena masih banyak pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan oleh mamaku. Saat akan meninggalkan mereka, sangat sedih rasanya. Karena aku harus bergelut lagi dengan kesunyian pelosok dusun.
Setiap malam aku selalu melantunkan lagu daerahku walau itu hanya merupakan potongan-potongan dari bait-bait lagu yang diajarkan oleh mamaku. Ingat kampung halaman lagi dan lagi rasanya. Laguku di iringi alunan malam jangkrik yang bersimfoni dan teriakan mesin traktor penjinjing kayu bantalan. Hanya itu setiap malam yang menyapa pendengaranku. 







BERSAMBUNG....

0 komentar:

Posting Komentar